Kabar-Terkini.com. Malaka (Nusa Tenggara Timur), Di bawah langit Kabupaten Malaka yang membentang luas, peluh yang menetes di dahi para jemaat bukanlah lambang kelelahan, melainkan tinta emas yang menorehkan sejarah kebersamaan. Selasa (20/10/2026), pelataran Gedung Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Musafir Kota Bone, Desa Bone Tasea, Kecamatan Weliman, Nusa Tenggara Timur, mendadak bergemuruh oleh semangat kolektif yang membara. Di tempat inilah tangan-tangan perkasa berpadu dalam aksi pengecoran teras gereja, digerakkan oleh inisiatif tulus Sersan Satu (Sertu) Henry Rumamalete, Babinsa Koramil 1605-09/Biudukfoho.
Pekerjaan fisik yang menguras tenaga ini menghidupkan kembali pemikiran eksistensialisme Jean-Paul Sartre, bahwa esensi eksistensi manusia bukanlah pada apa yang ia renungkan dalam diam, melainkan pada keberanian mengambil tindakan nyata serta memikul tanggung jawab penuh bagi kemaslahatan komunitasnya.
Sengatan matahari siang di bumi Malaka memaksa langkah kaki untuk berhenti sejenak. Di bawah naungan rindang dan sisa-sisa bayangan dinding gereja, para jemaat duduk melepas lelah, menyeka keringat sambil menikmati hembusan angin perbatasan.
Di sela-sela istirahat yang hangat itu, obrolan santai mengalir dari hati ke hati. Senyum kelegaan terpancar jelas di wajah mereka saat mengenang perjalanan panjang pembangunan rumah ibadah tersebut. Seorang jemaat membuka percakapan dengan nada penuh rasa syukur:
“Untung ada Pak Henry datang di saat kita mulai membangun gedung gereja. Kalau kita sendiri, tidak mungkin gedung sebesar ini akan rampung. Berkat campur tangan Pak Henry, mulai dari usaha dana sampai gedung sudah selesai, dan sekarang kita mulai mencor teras. Semoga Tuhan memberkati Pak Henry dalam tugas dan tanggung jawabnya kepada Nusa dan Bangsa.”
Pernyataan tulus tersebut langsung disambut anggukan kepala dan senyuman hangat dari jemaat lainnya. Percakapan sederhana ini merefleksikan teori modal sosial (*social capital*) dari Pierre Bourdieu, di mana kehadiran figur teladan mampu merajut jaringan kepercayaan (*networks of trust*) yang mempererat solidaritas organik di tengah umat.
Sebuah rumah ibadah tidak pernah benar-benar berdiri hanya di atas fondasi semen, kerangka besi, dan hamparan pasir. Lebih dari itu, bangunan suci ditegakkan di atas fondasi *eros*ācinta kasih insani yang meruntuhkan ego dan menyatukan umat dalam satu tujuan transenden.
Merujuk pada konsep sosiologis Ferdinand Tƶnnies mengenai *Gemeinschaft* (patembayan), relasi yang terjalin di GMIT Musafir Kota Bone membuktikan bahwa ikatan batiniah masyarakat perbatasan jauh lebih kuat daripada sekadar hubungan administratif. Di sini, pepatah lama āberat sama dipikul, ringan sama dijinjingā menemukan wujud hidupnya yang paling autentik. Beban yang berat diangkat bersama, dan setiap tetes keringat diubah menjadi berkat.
Peran Sertu Henry Rumamalete sebagai Babinsa Koramil 1605-09/Biudukfoho menegaskan bahwa tugas seorang prajurit TNI tidak hanya menjaga kedaulatan teritorial negara dari ancaman luar, tetapi juga merawat denyut nadi kehidupan rakyat di garis depan. Sinergi antara aparat teritorial dan jemaat Desa Bone Tasea ini menjelma menjadi benteng sosial yang kokoh, memperlihatkan bahwa kehadiran negara dirasakan hingga ke pelosok pedesaan melalui aksi nyata yang menyentuh akar rumput.
Teras gereja yang kini rampung dicor bukan sekadar ruang fisik penunjang aktivitas sebelum dan sesudah ibadah. Lebih dari itu, pelataran tersebut adalah monumen hidup tentang harmoni, ketulusan, dan kekuatan gotong royong yang menjadi warisan luhur bangsa Indonesia.
Pada akhirnya, kemegahan sebuah rumah Tuhan tidak diukur dari seberapa megah arsitekturnya, melainkan dari seberapa erat tangan-tangan umat saling menggenggam untuk mendirikannya. Dari teriknya cuaca Desa Bone Tasea hingga keheningan ruang-ruang doa di dalam gereja, pengecoran teras GMIT Musafir Kota Bone meninggalkan pesan abadi: bahwa bersama kasih Tuhan dan uluran tangan sesama, setiap gunung persoalan pasti akan rata, dan setiap niat baik pasti menemukan jalan terang.
Jurnalis: Roy SĀ Ā Ā Ā Editor : Tya
















































































































Komentar